Senin, 15 Mei 2017

Sejarah Asal Usul Suku Jawa di Indonesia



Sejarah Asal Usul Suku Jawa di Indonesia
Suku Jawa adalah salah satu suku mayoritas yang ada di Indonesia. Kebanyakan dari suku ini berdomisili di berbagai belahan di pulau Jawa. Mereka menghuni khusunya di Provinsi Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Namun, suku ini juga banyak ditemukan di Provinsi Jawa Barat, Banten dan tentunya di Ibukota Jakarta. Ternyata  tidak hanya di pulau Jawa saja, masyakarat yang bersuku Jawa juga tersebar di berbagai pulau yang ada di Indonesia bahkan juga mancanegara.
Sebagian besar masyarakat yang bersuku Jawa menggunakan bahasa Jawa dalam percakapan di kehidupan sehari-hari. Banyak kalangan yang berpendapat bahwa masyarakat jawa adalah orang-orang yang sopan dan satun dalam bertutur kata serta dalam tingkah laku. Lalu siapakah sebenarnya nenek moyang suku Jawa? Bagaimana suku ini bisa menjadi mayoritas di Indonesia? Berikut ini adalah ulasannya.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEilEIo7zLFqwfdJE0yDVQLJ41y6LHQXCvxiH_xy03RUm4IPiMykyGrKnQTf6dCxsP-jvQA5SgtEtRwLJX1pqUtVHi4XjsAQLECBex2c2Hm2T7l3sNzbb6Wty2CI51Rqw4T64GoPGqK3/s1600/Sejarah+Asal+Usul+Suku+Jawa+di+Indonesia.jpg
Sejarah Asal Usul Suku Jawa
Asal usul suku Jawa tidak jauh berbeda dengan asal-usul orang Indonesia secara keseluruhan yaitu ketika ditemukannya fosil dari Homo Erectus yang juga dikenal dengan “Manusia Jawa” oleh Eugene Dubois di Trinil. Ia merupakan ahli anatomi yang berasal dari Belanda. Fosil yang ditemukan tersebut diperkirakan memiliki umur sekitar 700.000 tahun. Tidak lama berselang, ditemukan juga fosil lainnya dari spesies yang sama di Sangiran oleh Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald pada tahun 1930. Dirinya menemukan perkasas yang jauh lebih maju dibandingkan era sebelumnya. Diiperkirakan umur dari perkasas tersebut adalah 550.000 hingga 143.000 tahun.
Sedangkan, pada sebuah tulisan kuno memberikan sebuah kejelasan mengenai asal usul nenek moyang suku Jawa yaitu ketika kedatangan aji saka. Akan tetapi, di dalam tulisan kuno tersebut terdapat keterangan mengenai keadaan geologi pula Jawa dalam sebuah tulisan kuno hindu yang menyatakan bahwa Nusa Kendang, nama pulau Jawa kala itu merupakan bagian dari India. Sedangkan tanah yang saat ini dikatakan sebagai Kepulauan Nusantara merupakan daratan yang menyatu dengan daratan Asia dan Australia yang kemudian terputus dan tenggelam oleh air bah.
Sementara itu, di Babad Kuno, juga ditemukan sejarah yang samar mengenai suku Jawa. Diceritakan bahwa ada Arjuna seorang raja dari Astina yang merupakan kerajaan yang bertempay di Kling membawa penduduk pertama ke Pulau Jawa. Pada masa tersebut, pulau ini belumlah mempunyai penghuni. Mereka kemudian mendirikan sebuah koloni yang letaknya tidak disebutkan.
Sejarah lebih jelas akhirnya didapatkan ketika ditemukannya sebuah surat kuno yaitu Serat Asal Kereaton Malang. Di dalam surat tersebut disebutkan bahwa Raja Rum yang merupakan sultan dari negara Turki namun disurat lainnya disebut sebagai raja dari Dekhan mengirim penduduk pertama pada 450 SM. Akan tetapi, penduduk yang dikirim tersebut menderita karena adanya gangguan dari binatang buas. Karena hal tersebut, maka banyak dari penduduk yang kembali pulang ke negara asalnya.
Lalu pada 350 SM Raja kembali mengirim perpindahan penduduk untuk kedua kalinya. Perpindahan tersebut membawa 20.000 laki-laki dan 20.000 perempuan yang berasal dari Koromandel. Perpindahan yang dipimpin oleh Aji Keler ini menemukan Nusa Kendang dengan dataran tinggi yang ditutupi oleh hutan lebat serta binatang buas. Sementara itu, di tanah datarnya ditumbuhi oleh tanaman yang dinamakan jawi. Karena jenis tanaman tersebut ada di mana-mana maka dirinya menamakan tanah tempat tersebut dengan nama “Jawi”. Nama tersebut yang kemudian berlaku untuk nama keseluruhan Pulau Jawa.
Kepercayaan utama yang dianut oleh suku ini adalah animisme. Kepercayaan tersebut terus bertahan hingga pada akhirnya dai-dai Hindu dan Budha tiba di indonesia. Mereka melakukan kontak dagang dengan penduduk dan membuat mereka tertarik untuk menganut agama-agama baru ini. Hal itu disebabkan karena mereka mampu menyatu dengan filosofi lokal Jawa yang unik.
Perkembangan serta penyebarluasan dari suku Jawa mulai berlangsung signifikan ketika Kertanegara memerintah Kerajaan Singasari pada akhir abad ke-13. Dirinya melakukan beberapa ekspesidi besar seperti ke Madura, Bali, Kalimantan dan Sumatera. Hingga pada akhirnya, Singasari berhasil menguasai perdagangan di selat Malaka menyusul kekalahan kerajaan Melayu. Pada tahun 1292, dominasi dari kerajaan Singasari terhenti ketika terjadinya pemberontakan oleh Raden Wijaya yang merupakan anak dari Kertanegara. Raden Wijaya inilah yang kemudian mendirikan Kerajaan Majapahit yang menjadi kerajaan terbesar di Nusantara kala itu.
Namun, Majapahit akhirnya mengalami banyak permasalahan karena tidak adanya penerus. Ketika Majapahit mulai runtuh, pulau Jawa mulai berubah dengan berkembangnya agama Islam. Ketika Majapahit runtuh, maka dominasinya digantikan oleh Kesultanan Demak. Kesultanan Demak inilah yang nantinya memainkan peranan penting dalam menghalau kekuatan Portugis. Demak melakukan dua kali penyerangan kepada Portugis ketika kaum Portugis berhasil menundukkan Malaka.
Masyarakat suku Jawa diperkirakan mempunyai kaitan erat dengan migrasi penduduk Austronesia menuju Madagaskar pada abad pertama. Namun demikian, sebenarnya kultur utama dari migrasi ini lebih dekat dengan suku Ma’anyan di Kalimanyan. Beberapa bagian dari bahasa Malagasy sendiri diambil dari bahasa Jawa. Pada ratusan tahun setelahnya, diperkirakan ketika periode kerjaan Hindu tiba, banyak saudagar kaya yang bermukim di tempat lainnya di Nusantara ini. Ketika runtuhnya Majapahit dan berkembannya Islam di Pantai Utara Jawa, maka banyak orang Hindu yang bermigrasi dari Jawa ke Bali dan berperan dalam majunya kultur Bali.  Migrasi yang dilakukan oleh suku Jawa tidak hanya di dalam negeri saja. Namun, mereka juga melakukan migrasi ke Semenanjung Malaya. Hubungan antara Malaka dan Jawa menjadi hal penting dalam perkembangan Agama Islam di Indonesia.

Suku Jawa : Daftar Suku Jawa

Suku jawa yang sering disebut dengan istilah Jawa ngoko: Wong Jowo, Krama:Tiang Jawi merupakan etnis/suku yang mempunyai populasi terbesar di Indonesia, selain itu suku jawa juga memiliki penyebaran yang sangat luas, hampir seluruh pulau besar Indonesia telah menjadi wilayah
 
penyebarannya, tidak hanya di nusantara, suku jawa pun telah menyebar ke berbagai wilayah di Negara luar diantaranya di Suriname (Amerika Selatan), Amerika Tengah, Afrika Selatan, dan Haiti di Lautan Teduh (Pasifik). ± 41,7% penduduk Indonesia merupkan etnis/ suku jawa. suku ini merupakan suku asli dari Jawa Timur, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta. Wilayah penyebaran yang paling banyan di nusantaraa adalah di propinsi jawa barat tepatnya di daerah Cirebon dan  Indramayu yang merupakan daerah perbatasan dengan wilayah asli mereka.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg3dJ5QbOFQeyq8tWDhDsr2oMFs76jWByxc7Y3-T3KvBqg8rdCr5GtNWJaMvXFZM4W2SNz5apqd2Rk5E9ZstwJmcG7De4WqE2bh9ckZQGjO-lEXKBPUbbd3kPjeHO34UA8RMp2BxnUGLg/s400/Untitled-1.png
Bahasa Suku Jawa
Bahasa suku jawa dalam komunikasi sehari-hari menggunakan bahasa jawa, namun dalah penggunaan bahasa jawa ini terdapak perbedataan kosa kata dan intonasi yang disebut unggah-unggunh, hal ini dipengaruhi berbagai faktor, baik faktor usia, klasifikasi sosial. Sehingga dengan menggunakan bahasa ini mereka sadar akan status sosial di masyarakatnya.
Meskipun bahasa jawa adalah bahasa suku jawa, namun ada beberapa suku jawa yang menggunakan bahasa nasional sebagai bahasa sehari-hari mereka dengan jumlah yang sedikit, menurut survey oleh majalah tempo pada tahun 1990 an (awal dasawarsa), suku jawa: ± 12% menggunakan bahasa Indonesia. 18% menggunakan bahasa Jawa dan Indonesia di campur.
Dalam penggunaan bahasa jawa, ada 3 tingkatan yang dijadikan bahasa resmi antara alain :
1.    Bahasa Ngoko, bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang sudah dikenal dekat, serta untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih muda.
2.    Bahasa Krama (Kromo), bahasa ini digunakan untuk berbicara dengan orang yang lebih tua, atau lebih tinggi status sosialnya.
3.    Bahasa madya, bahasa variasi dari penggunaan bahasa ngoko dan bahasa karma.

Selain ketiga bahasa di atas, dikenal juga dengan bahasa kedaton, yaitu bahasa yang digunakan di lingkungan keraton.

Kepercayaan Suku Jawa
Sebagian besar suku jawa menganut agama Islam, namun ada diantara mereka yang menganut agama selai islam, baik Protestan, katoli, Hindu dan Budha. Selain itu kepercayaan suku jawa juga ada yang dikenal dengan kepercayaaan agama kejawen, kepercayaan ini berdasarkan kepercayaan animism yang dipengaruhi Hindu budha yang melekat. Suku jawa mempunyai sifat sinkretisme kepercayaan, dengan sifat ini mereka menyerap semua budaya luar serta mereka tafsirkan menurut nilai-nilai jawa, sehingga kepercayaan yang ada pada diri seseorang kadangkala menjadi kabur
Profesi Suku Jawa
Dari sekian banyak suku jawa, mayoritasnya berprofesi sebagai petani. Sedangkan di wilyah  perkotaan mereka berprofesi sebagai pegawai negeri sipil, karyawan, pedagang, usahawan, dan lain-lain. Suku jawapun banyak yang menjadi tenaga kerja di luar negeri, bahkan suku Jawa mendominasi tenaga kerja Indonesia di luar negeri terutama di negara Malaysia, Singapura, Filipina, Jepang, Arab Saudi, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, Taiwan, Amerika Serikat, dan Eropa.

Kepercayaan Orang Jawa Sebelum Masuknya Agama

pohon keramat yang disembah orang jawa kuno
Situasi kehidupan “religius” masyarakat di Tanah Jawa sebelum datangnya Islam sangatlah heterogen. Kepercayaan import maupun kepercayaan yang asli telah dianut oleh orang Jawa. Sebelum Hindu dan Budha, masyarakat Jawa prasejarah telah memeluk keyakinan yang bercorak animisme dan dinamisme.
Pandangan hidup orang Jawa adalah mengarah pada pembentukan kesatuan numinous antara alam nyata, masyarakat, dan alam adikodrati yang dianggap keramat. Di samping itu, mereka meyakini kekuatan magis keris, tombak, dan senjata lainnya. Benda-benda yang dianggap keramat dan memiliki kekuatan magis ini selanjutnya dipuja, dihormati, dan mendapat perlakuan istimewa.

Para Wali yang berdakwah di tanah jawaMasuknya Islam ke Tanah Jawa








Sebelum Islam masuk ke tanah Jawa, sebagaimana yang kita telah paparkan di atas, mayoritas masyarakat Jawa telah menganut agama Hindu-Budha. Namun, seiring dengan waktu berjalan, tidak lama kemudian Islam masuk ke Jawa melewati Gujarat dan Persi dan ada yang berpendapat langsung dibawa oleh orang Arab.
Kedatangan Islam di Jawa dibuktikan dengan ditemukannya batu nisan kubur bernama Fatimah binti Maimun serta makam Maulana Malik Ibrahim. Saluran-saluran Islamisasi yang berkembang ada enam yaitu: perdagangan, perkawinan, tasawuf, pendidikan, kesenian, dan politik.
Era Walisongo (Sembilan Wali Allah) adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Walisongo adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di Jawa peranan Walisongo sangat besar dalam mendirikan kerajaan Islam di Jawa.
sejarah suku jawa
Menara Kudus yang dibuat oleh Sunan Kudus | sholihinz.blogspot.com
Di pulau Jawa, penyebaran agama Islam dilakukan oleh Walisongo. Wali ialah orang yang sudah mencapai tingkatan tertentu dalam mendekatkan diri kepada Allah. Dengan usaha dakwah mereka, para wali ini kemudian mendapatkan posisi strategis di kalangan istana. Merekalah orang yang memberikan pengesahan atas sah tidaknya seseorang naik tahta sekaligus penasihat sultan.
Karena dekat dengan kalangan istana, mereka kemudian diberi gelar sunan alias susuhunan (yang dijunjung tinggi).
Kesembilan wali tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim). Inilah wali yang pertama datang ke Tanah Jawa pada abad ke-13 dan menyiarkan Islam di sekitar Gresik, Jawa Timur. Dimakamkan di Gresik, Jawa Timur.
  2. Sunan Ampel (Raden Rahmat). Menyiarkan Islam di Ampel, Surabaya, Jawa Timur. Beliau merupakan perancang pembangunan Masjid Demak.
  3. Sunan Drajad (Syarifudin). Beliau adalah wali sekaligus anak dari Sunan Ampel. Menyiarkan agama di sekitar Surabaya. Ia dikenal sebagai seorang sunan yang sangat berjiwa sosial.
  4. Sunan Bonang (Makdum Ibrahim). Beliau juga anak dari Sunan Ampel. Menyiarkan Islam di Tuban, Lasem, dan Rembang. Beliau terkenal sangat bijaksana.
  5. Sunan Kalijaga (Raden Mas Said/Jaka Said). Murid Sunan Bonang. Menyiarkan Islam di Jawa Tengah. Seorang pemimpin, pujangga, dan filosof. Menyiarkan agama dengan cara menyesuaikan dengan lingkungan setempat.
  6. Sunan Giri (Raden Paku). Menyiarkan Islam di Jawa dan luar Jawa, yaitu Madura, Bawean, Nusa Tenggara, dan Maluku. Menyiarkan agama dengan metode bermain.
  7. Sunan Kudus (Jafar Sodiq). Menyiarkan Islam di Kudus, Jawa Tengah. Seorang ahli seni bangunan. Hasilnya ialah Masjid dan Menara Kudus.
  8. Sunan Muria (Raden Umar Said). Menyiarkan Islam di lereng Gunung Muria, terletak antara Jepara dan Kudus, Jawa Tengah. Sangat dekat dengan rakyat jelata.
  9. Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah). Menyiarkan Islam di Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon. Seorang pemimpin berjiwa besar.

Kerajaan Islam Masa Lalu

Ketika Majapahit mengalami banyak permasalahan tentang siapa yang menjadi penerus, beberapa perang sipil terjadi dan membuat Majapahit kehilangan kekuatan mereka sendiri. Ketika Majapahit mulai runtuh, pulau Jawa juga mulai berubah dengan berkembangnya Islam.
Maka keruntuhan Majapahit ini menjadi momentum bagi kesultanan Demak untuk menjadi kerajaan yang paling kuat. Kesultanan Demak ini nantinya juga memainkan peranan penting dalam menghalau kekuatan kolonial Portugis yang datang. Dua kali Demak menyerang Portugis ketika para kaum Portugis menundukkan Malaka.
sejarah asal usul jawa
Masjid Agung Demak, jejak peninggalan Kerajaan Islam Demak
Demak juga dikenal dengan keberanian mereka menyerang aliansi Portugis dan Kerajaan Sunda. Kesultanan Demak kemudian dilanjutkan oleh Kerajaan Pajang dan Kesultanan Mataram, dan perubahan ini juga memaksa pusat kekuatan berpindah dari awalnya ada di pesisir Demak menuju Pajang di Blora, dan akhirnya pindah lagi ke Mataram tepatnya di Kotagede yang ada di dekat Yogyakarta sekarang ini.

7 Filosofi Hidup Suku Jawa

https://i0.wp.com/orig07.deviantart.net/ff92/f/2011/075/7/1/culture_impact_by_ziireplorra-d3br7wu.jpg?resize=800%2C566
  1. Urip Iku Urup (Hidup itu harus menyala/bermanfaat)Filosofi ini menggambarkan sifat dasar sebagian besar orang Jawa yang senang berbagi atau memberikan manfaat kepada orang lain.
  2. Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara (Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan, serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak).Inilah filosofi yang dipakai oleh orang-orang Jawa yang melahirkan sifat tenang dan tidak suka dengan kerusuhan.
  3. Ojo Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman (Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi).Sebetulnya filosofi ini sangatlah penting, namun sayangnya sudah banyak ditinggalkan kecuali oleh kakek-nenek kita dahulu.
  4. Ojo Kuminter Mundak Keblinger, Ojo Cidro Mundak Ciloko (Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah, jangan suka berbuat curang agar tidak celaka).Salah satu filosofi yang paling berharga yang mengarahkan (sebagian besar) keturunan orang Jawa agar tidak sombong dan licik.
  5. Wong Jowo Kwi Gampang Ditekak-tekuk (Orang Jawa itu luwes).Bukan berarti mereka mudah dikendalikan, akan tetapi lebih karena mereka adalah orang-orang yang luwes dan mudah bergaul dengan beragam masyarakat yang ada.
  6. Mangan Ora Mangan Sing Penting Ngumpul (Makan tidak makan yang penting kumpul).Filosofi yang sangat terkenal ini menunjukkan sifat suka bergotong-royong.
  7. Nrimo Ing Pandum (Menerima Pemberian Dari Yang Kuasa).Inilah ciri khas orang-orang Jawa, yaitu Nrimo. Maksudnya, mereka adalah orang-orang yang sangat pandai bersyukur atas apa saja yang diberikan oleh Tuhan.

Sifat serta Karakter Masyarakat Jawa Kebanyakan

Sebagian besar masyarakat Jawa hingga kini masih tetap mengamalkan filosofi mereka sehingga kita pun bisa mengenali sifat dan karakter mereka yang khas. Karakter orang Jawa diidentikkan dengan sikap sopan, segan, pemalu serta menjaga etika bicara. Dalam keseharian masyarakat Jawa, mereka sangat menjunjung tinggi sifat Andap Asor terhadap orang yang lebih tua. Andap Asor adalah adab ketika berbicara yang memiliki tingkatan-tingkatan, melihat siapa lawan bicaranya.

Pemalu

Masyarakat Jawa juga umumnya cenderung sering menyembunyikan perasaannya. Mereka akan menampik penawaran yang ditawarkan dengan lemah lembut demi menjaga perasaan orang yang memberi. Contoh lainnya, apabila mereka bertamu, orang Jawa tidak akan mencicipi hidangan yang disediakan hingga dipersilakan oleh tuan rumah. Karena sikap ini, terkadang mereka rela mengorbankan kehendak atau keinginan hati.

Sopan

Ketika berbicara, masyarakat Jawa akan sangat menjunjung tinggi etika. Seseorang yang lebih muda ketika berbicara dengan orang tua atau yang lebih mulia harus menggunakan bahasa kromo inggil, yaitu bahasa Jawa halus. Sedangkan bahasa yang dipakai ketika berbicara dengan orang seumuran atau lebih muda adalah bahasa ngoko atau bahasa Jawa biasa.

Gotong-Royong

Salah satu ciri khas yang sulit dilepaskan dari pribadi orang-orang Jawa adalah sifat gotong royong atau saling membantu sesama masyarakat, terutama tetangga. Apabila kita berkunjung ke desa-desa, kita akan dengan mudah mendapati orang-orang yang memiliki sifat ini. Terkadang, apabila ada tetangga mereka yang hendak membangun rumah, mereka tidak akan segan ikut membantu sekalipun tidak dibayar, begitu juga sebaliknya.

Terima Apa Adanya

Sifat inilah yang membuat orang-orang dari berbagai suku mengincar wanita-wanita Jawa sebagai calon pendamping hidup. Selain karena berbagai aspek lainnya, sifat menerima apa adanya inilah yang menjadi daya tarik tersendiri. Hal ini sangat berpengaruh dalam proses perjalanan rumah tangga karena istri yang memiliki sifat mudah menerima, terutama dalam hal ekonomi, tidak akan menjadi beban pikiran sang suami.

Rumah Adat Pakaian Adat Tarian Adat di Provinsi Pulau Jawa

11. Provinsi Banten

Ibukota: Serang
Rumah Adat : Rumah Suku Baduy (Sulah Nyanda)
rumah adat banten sulah nyanda

Pakaian Adat : Pakaian Pengantin
Tarian Tradisional : Tari Prajurit, Tari Topeng, Tari Rampak Beduk, Tari Grebeg Terbang Gede, Tari Cokek, Tari Lesung
Senjata Tradisonal : Golok dan Kujang
Lagu Daerah : Dayung Sampan, Jereh Bu Guru, Tong Sarakah, Ibu, Yu ragem belajar
Suku : Baduy atau Kanekes
Julukan : Kota Santri

12. Provinsi DKI Jakarta

Ibukota: Jakarta
Rumah Adat : Rumah Kebaya, Rumah Gudang, Rumah Joglo Betawi, Rumah Panggung
rumah adat betawi rumah kebaya
Pakaian Adat : Pakaian Adat Abang dan None Betawi
Tarian Tradisional : Tari Ronggeng, Tari Yapong, Tari Topeng Betawi, Tari Cokek, Tari Lenggang Nyai, Tari Japin, Tari Doger Amprok, Tari Kembang Lambang Sari, Tari Legong Kraton, Tari Kembang Rampe
Senjata Tradisonal : Golok
Lagu Daerah : Jali-Jali, Keroncong Kemayoran, Kicir-Kicir, Surilang, Lenggang Kangkong, Ondel-ondel, Ronggeng Jakarta, Sirih Kuning, Pepaya mangga Pisang Jambu, Wak-Wak Gung
Suku : Betawi
Julukan : Kota Metropolitan

13. Provinsi Jawa Barat (JABAR)

Ibukota: Bandung
Rumah Adat : Rumah Kasepuhan Cirebon
rumah adat jabar
Pakaian Adat : Pakaian Adat Kebaya Jawa Barat
Tarian Tradisional : Tari Topeng Kuncaran, Tari Merak, Tari Jaipong, Tari Wayang, Tari Kandagan, Tari Ketuk Tilu, Tari Digenjring Bonyok, Tari Sipytri Sintren, Tari Topeng Cisalak, Tari Paku Jajar, Tari Ratu Graeni, Tari Topeng Tumenggung Priangan
Senjata Tradisonal : Kujang
Lagu Daerah : Manuk Dadali, Bubuy Bulan, Cing Cangkeling, Panon Hideung, Pileuleuyan, Tokecang, Sintren, Bajing Luncat, Es Lilin, Neng Geulis
Suku : Sunda
Julukan : Kota Kembang / Paris Van Java

14. Provinsi Jawa Tengah (JATENG)

Ibukota: Semarang
Rumah Adat : Rumah Joglo, Rumah Padepokan Jawa Tengah
rumah adat jateng
Pakaian Adat : Pakaian Adat Kebaya Jawa Tengah
Tarian Tradisional : Tari Bambangan Cakil, Tari Gandrung, Tari Sintren, Tari Bondan Payung, Tari Gambyong, Tari Serimpi
Senjata Tradisonal : Keris
Lagu Daerah :Gambang Suling, Gek Kepriye, Gundul Pacul, lir-llir, Jamuran, Bapak Pucung, Jaranan, Padang Wulan, Ande-ande Lumut, Dondong Apa Salak
Suku : Jawa, Karimun, dan Samin
Julukan : Kota Lumpia / Kota Jamu

15. Provinsi Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta

Ibukota: Yogyakarta
Rumah Adat : Rumah Bangsal Kencono, Rumah Joglo
rumah adat yogya rumah joglo
Pakaian Adat : Pakaian Adat Kasatrian
Tarian Tradisional : Tari Serimpi Sangupati, Tari Bedhaya, Tari Golek Sulung Dayung, Tari Golek, STari ekar Pudyastuti, Tari Golek Retno Adaninggar, Tari Topeng Putri Kenakawulan, Tari Angguk
Senjata Tradisonal : Keris
Lagu Daerah : Pitik Tukung, Sinom, Suwe Ora Jamu, Kidang Talun, Tekate Dipanah, Menthok- menthok, Kupu Kuwi, Caping Gunung, Walang Kekek, Gethuk
Suku : Jawa
Julukan : Kota Gudeg, Kota Pelajar, Kota Seni dan Budaya

16. Provinsi Jawa Timur (JATIM)

Ibukota: Surabaya
Rumah Adat : Rumah Joglo Situbondo, Rumah Joglo Sumenep
rumah adat jatim rumah joglo

Pakaian Adat : Pakaian Adat Pesa'an
Tarian Tradisional : Tari Sekapur Sirih, Tari Selampit Delapan, Tari Selendang Mak Inang, Tari Rentak Besapih, Tari Tauh, Tari Selaras Pinang Masak,Tarian Magis Gadis, Tari Kipas Keprak. Senjata Tradisonal : Tari Remo, Tari Reog Ponorogo, Tari Thengul, Tari Boran, Tari Jaran Kencak,Tari Jejer Gandrung, Tari Malathe Sato’or, Tari Turangga Yaksa, Tari Singo Ulung, Tari Topeng Malangan, Tari Muang Sangkal, Tari Jaranan, Tari Wayang Topeng, Tari Glipang,Tari Gembu /Gambuh
Senjata Tradisonal : Celurit
Lagu Daerah : Keraban Sape, Tanduk Majeng, Rek ayo Rek, Cublak-cublak Suweng, Gai Bintang, Kembang Malathe, Lindri, Grimis-Grimis, Bapak Tane, Tanjung Perak
Suku : Jawa, Madura, Tengger, Bawean, dan Osing
Julukan : Kota Pahlawan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar